Tuesday, December 31, 2013

Menemukanmu


Kita tidak akan pernah tahu kapan dan di mana kita akan menemukan cinta sejati kita.
***

Sembari memasukkan beberapa barangnya ke dalam koper biru mudanya, Rena memegang telepon dan sibuk berbicara dengan seseorang di seberang sana.
“Iya, lagi packing ini”
“Tidak lah, tapi bener juga sih ini kali pertama aku tinggal jauh dari mama, hihi”
“Janji, aku pasti tak kan lupa”
Bye
Akhirnya, telepon yang sudah mulai panas karena dipakai untuk berbicara setengah jam penuh itu dimatikan.
“Dari siapa, Ren”, tanya mama Rena yang tiba-tiba sudah muncul di depan kamarnya.
“Dari Acha Ma, dia kaget banget waktu kuberitahu aku akan ke Samarinda”
Mama Rena terdiam sebentar, lalu berkata, “Ren, jujur mama agak khawatir melepas kamu sendirian ke sana”
“Mama, aku sudah 24 tahun. Aku bisa jaga diri kok”, Rena menenangkan mamanya dan melempar senyum
“Andai saja ada seorang lelaki meminangmu sekarang, pasti Mama akan langsung terima agar ada yang menemani dan menjagamu di sana”
Rena terhenti sesaat dari pekerjaannya, “Mungkin belum waktunya Rena menikah, Ma. Mama tenang aja, jodoh pasti datang pada saat yang tepat”, dia mulai sok menggurui.
Mamanya hanya bisa tersenyum kecil.
“Lagian di sana ada Ekka, teman Rena S1 dulu. Tante Ima juga di sana, kalau lagi merasa kesepian pasti deh Rena bakal berkunjung ke rumah beliau. Wira, anaknya Tante Ima juga pasti bakal senang menemani Rena jalan-jalan di sana”
Mamanya sedikit lega, beliau kemudian membantu menyelesaikan packingnya Rena.
***

Kekhawatiran mamanya sebenarnya dapat dimengerti oleh Rena. Selama ini ia tak pernah sekali pun tinggal jauh dari mamanya. Sejak papanya meninggal 2 tahun yang lalu dan kedua abangnya bekerja dan menikah di dua kota yang jauh dari Jakarta, Medan dan Kuala Lumpur, otomatis Rena hanya tinggal berdua dengan mamanya. Hal ini sebenarnya membuat Rena berat hati untuk meninggalkan mamanya sendirian, tapi kesempatan kerja ini sangat langka menurutnya. Beberapa teman juga menyarankan untuk mengambil tawaran kerja tersebut, kesempatan karir yang bagus kata mereka, sayang sekali kalau dilewatkan. Rena mengajukan lamaran sebulan lalu, tepat setelah lulus dari pendidikan S2nya, di sebuah perusahaan multi-nasional yang mempunyai banyak cabang di kota seluruh Indonesia. Seminggu yang lalu kepastian dirinya diterima bekerja ia dapatkan. Sebelum menandatangani kontrak, ia sudah mengetahui akan ditempatkan di Kota Samarinda.
Tentang suami, ah ini yang membuat Rena menghela napas panjang. Usianya baru 24 tahun, masih muda untuk menikah menurut standar gadis Jakarta seperti dirinya. Tapi ia tak menolak andai saja memang ada lelaki yang cocok meminang dirinya. Ia sudah lama tidak dekat dengan lelaki mana pun setelah …. Ahh, ia jadi teringat Rey.
Lamunannya terputus, panggilan untuk menaiki pesawat terdengar menggema di seluruh ruang tunggu bandara. Tujuan ke Balikpapan melewati gate 5, ke sanalah kaki Rena melangkah.
***

Ya, di sinilah ia sekarang. Di Bumi Etam, Kota Samarinda. Ini pertama kalinya Rena menginjakkan kaki di Pulau Kalimantan.
“Jadi bagaimana menurutmu Kota Samarinda, Ren?”, Ekka teman dimana rumahnya merupakan tempat Rena menginap sementara sekarang bertanya
“Bagus, kotanya besar dan masih pure dibandingkan Jakarta”, jawab Rena
Mereka baru saja kembali dari berjalan-jalan dan melihat-lihat beberapa rumah kos dan kontrakan yang akan ditempati Rena kelak. Sebenarnya Ekka menawari Rena untuk tinggal di rumahnya selama apa pun Rena bekerja di Samarinda. Toh dia anak tunggal, hanya ada Ekka dan kedua orang tuanya di rumah. Tapi Rena menolak, mau belajar mandiri kilahnya. Ia berjanji akan sering-sering mengunjungi Ekka. Begitu pula tante Ima, menawarinya untuk tinggal di rumahnya. Rena denga halus menolak dan memberikan alasan tambahan kalau rumah tante Ima agak jauh dari tempat kerja Rena.
“Jadi bagaimana kabar pangeran kita?”, Ekka bertanya mengagetkan Rena yang sedang minum
Rena tersedak, namun ia berusaha menyembunyikan kekagetannya, “Emm, aku lama sekali tidak bertemu dia Ka”, suaranya pura-pura terdengar biasa.
“Yakin kamu tidak mau tahu kabarnya sekarang?”, pancing Ekka sambil tersenyum geli di belakang Rena yang membalikkan badannya setelah tersedak
“Tidak Ka, yakin”, jawab Rena lambat. Dia cukup yakin dengan subjek yang sedang mereka bicarakan
“Sayang sekali, kukira kamu mau tahu”, sambung Ekka tanpa ampun.
“Hah, memangnya kamu tahu, dia sudah menikah?”, kali ini tanpa bisa menutupi rasa penasarannya Rena membalikkan badan ke arah Ekka
“Aku juga tidak tahu Ren”, tanpa dosa Ekka mengangkat bahu
“Huh” Rena pura-pura kesal
Ekka tertawa geli, setidaknya ia tahu Rena masih penasaran tentang Rey.
***

Rena menghembuskan napas lega, fiuhhh. Akhirnya selesai juga pekerjaannya. Ia  melirik arlojinya, 16.30. Lembur lagi. Meski pun dia anak baru, ternyata tugas untuknya cukup banyak. Setelah dua minggu masa perkenalan dan adaptasi, Rena mulai bekerja. Alamak, di minggu keempat ia sudah harus lembur seminggu penuh, bahkan di hari jum’at. Rena sendiri tidak keberatan dengan rutinitas seperti itu, ia sudah kenyang workaholic saat kuliah dulu.
Sekarang Rena bersiap pulang tapi setelah melihat keluar dari jendelanya, niat tersebut ia urungkan. Hujan sangat deras di luar. Keasyikan bekerja membuat ia tidak menyadari bahwa sejak satu jam yang lalu, rinai hujan sudah bertandang ke bumi. Rena malas berbasah-basah kehujanan. Meski pun membawa jas hujan di balik jok motornya, Rena tahu ia tidak akan sepenuhnya berhasil menghindari basah karena hujan yang terlampau deras seperti ini.
Dalam proses menunggunya, Rena jadi teringat percakapannya dengan Ekka sebulan yang lalu. Ekka sialan, umpatnya. Rey. Satu nama itu entah mengapa membuat hatinya merasa begitu aneh jika disebut. Ia dan Rey punya hubungan dekat dulu, ketika mereka kuliah S1. Kemana-mana selalu bersama. Selain Acha dan Ekka, Rey adalah sahabat Rena yang paling setia. Ya, mereka tidak pernah mengikrarkan diri dengan hubungan antar lawan jenis. Tetapi tidak bisa terelakkan, aura kecocokan mereka berdua telah merebak ke seluruh kampus. Tentu saja, karena Rena begitu populer. Rey sendiri orangnya terlalu cuek untuk mengklarifikasi kabar yang salah atau memastikan hubungan mereka. Rena senang-senang saja. Dia nyaman berada di dekat Rey terus.
Suatu hari, kabar yang tak ingin didengar Rena datang. Ia mendengarnya dari seorang teman Rey satu daerah asal. Katanya Rey sudah punya tunangan, sudah dijodohkan oleh orang tua sejak lulus SMA. Sekarang, gadisnya Rey tersebut juga sedang berkuliah di Banjarmasin, di daerah asal Rey. Rena pias, marah, cemburu jadi satu. Ia merasa selama ini, Rey hanya miliknya. Rey yang cuek. Rey yang hanya perhatian dengan Rena. Rey yang manis. Rey yang selalu membantunya ketika ia butuhkan. Ia tidak ingin berlanjut. Logikanya menyeruak. Saat itu masa akhir perkuliahan. Rena semakin disibukkan dengan skripsinya. Pertemuan dengan Rey terbatas. Ketika Rey mengajak bertemu pun sebisa mungkin ia hindari. Ia tidak ingin bertemu Rey lagi. Ia tahu kabar itu benar. Ia tidak ingin mendengar kabar tersebut langsung dari mulut Rey. Ia tidak ingin terluka lebih jauh lagi. Dan yang paling tidak diinginkannya terjadi adalah, ia tidak ingin terlihat terluka dan menangis di depan seseorang yang statusnya bukan siapa-siapanya.
Rena beranjak, hujan mulai digantikan gerimis kecil.
***

Yes”, pekik Rena ketika mengetahui ada waktu libur dalam rangka natal dan tahun baru. Satu minggu, lumayan juga pikirnya. Ia bisa balik ke Jakarta, menengok mama yang 3 bulan terakhir ini sangat dirindukannya.
Tapi macam anak sekolah saja, meski pun libur tetap saja ada tugas yang harus dikerjakan Rena. Tidak di  kantor, tapi di rumah. Divisi tempat Rena ditempatkan memang sangat urgen, libur 1 hari saja akan membuat beberapa pekerjaan dari divisi lain terbengkalai. Setelah berdiskusi dengan mamanya ia memutuskan tidak jadi ke Jakarta. Tapi untuk mengobati kerinduannya, mamanya yang terbang ke Samarinda. Toh, kakak-kakaknya tak ada yang bisa pulang. Lumayanlah menghabiskan tahun baru bersama keluarga selain di kota Jakarta pikir Rena.
***

Rena terlihat sangat sibuk dari siang hingga sore ini, ia membantu tante Ima dan mamanya memasak. Malam tahun baru kali ini akan mereka rayakan di rumah saja dengan makan malam menu spesial.
Malam tiba, mereka sudah mengelilingi meja makan. Tante Ema, Om Nelwan, Mama, dan Rena. Wira masih absen, kata tante Ima dia akan segera datang dengan temannya.
“Pacarnya ya Tante?”, tanya Rena menyelidik
“Hehe, mungkin saja”, jawab Tante Ima tertawa
Beberapa saat kemudian terdengar pintu depan dibuka, Wira masuk diikuti oleh seseorang. Seorang teman, bukan perempuan, bukan pacarnya. Meskipun bertahun-tahun tidak melihat orang ini. Rena tidak pernah lupa senyumnya. Rena hampir saja ternganga jika ia tidak segera menyadarkan dirinya dan pura-pura biasa.
“Hallo, Om, Tante”, sapa cowok ini, Rey.
***

Duarrr duuuaaarrr
Di kejauhan kembang api mulai bermekaran di langit. Bunyinya bergema dari setiap penjuru kota. Meski pun udara di teras rumah tante Ima saat itu sangat dingin, Rena merasa hangat. Setelah makan dan berbasa-basi sejenak, Rey mengajak Rena ke teras.
“Dunia memang sangat sempit, aku tidak tahu kalau kalian saling kenal”, itu kata Wira di meja makan saat mengetahui Rena dan Rey berteman.
“Bagaimana kabarmu?”, Rena membuka pembicaraan
“Aku baik, kamu?” standar sekali. Rey masih cuek seperti dulu pikir Rena
“Aku juga, aku sekarang kerja di sini, di Samarinda”
Rey kaget, “Yang benar? Sudah berapa lama”
“Sudah 3 bulan terakhir, kenapa?”, Rena heran mengapa Rey kaget
“Ah, tidak. Tidak menyangka saja, gadis metropolitan seperti kamu bersedia kerja di Kalimantan”, kata Rey sambil tersenyum
Rena menetralisir hatinya setelah melihat senyum Rey
“Kamu sendiri kerja di mana sekarang? Sudah menikah?”, Rena keceplosan

chibinanako.blogspot.com


Rey tersenyum, Rena masih seperti dulu, “Aku kerja di Balikpapan, satu kantor dengan Wira. Aku belum nikah”
Sangat kentara Rena menarik napas lega sebelum dia kemudian sadar lagi dengan tingkah bodohnya. Eh, tapi belum menikah bukan berarti tidak punya calon istri kan? Aaah, Rena mengerang kecil.
“Kenapa Ren? Sakit?”, Rey khawatir
Rena suka melihat wajah khawatir Rey, rasanya dejavu, saat mereka bersama-sama dulu, “Tidak apa-apa Rey”, senyumnya
Rena merasa ini adalah waktu yang tepat untuk minta maaf atas sikap kekanakan dan kelabilannya dulu. Apa pun yang terjadi dulu adalah masa lalu. Dan bagaimana pun status Rey sekarang, Rena hanya ingin berteman, menjalin hubungan baik dengan Rey lagi.
“Rey, aku minta maaf tentang dulu”
“Tentang apa Ren?”, Rey mengernyit bingung
“Di akhir-akhir kuliah aku menghindarimu, itu sengaja. Bukan karena kesibukan skripsiku”
“Ohh, boleh aku tahu alasannya?”
Rena terdiam. Ini rahasia masa lalu. Jika ia menginginkan hubungan baik, maka mau tak mau ini harus diungkapkan. Lalu, keluarlah kata-kata dan perasaan yang ia rasakan dulu ketika ia mengetahui bahwa Rey telah bertunangan. Rena mampu menahan air matanya, ini mukjizat. Karena bagaimanapun rasanya perasaan itu masih ada. Setiap ia berpikir untuk mengatakan ini pada Rey, ia pikir ia pasti tidak akan sanggup untuk tidak menangis.
“Rena?” panggil Rey lirih setelah jeda cukup lama
“Rena sejujurnya aku mencintaimu sejak dulu”, mata Rey menatap mata Rena
“Tapi kabar yang kau dengar, itu benar, itu yang membuatku tidak bisa mengatakan perasaanku padamu atau menanyakan perasaanmu padaku. Aku terikat janji dengan seseorang. Aku begitu bodoh membiarkan peraaanku padamu semakin dan membiarkan diriku nyaman selalu bersamamu dulu. Aku tak bisa mengambil sikap. Maafkan aku Ren”
“…”
“Ketika aku balik ke Banjarmasin, ternyata gadis yang telah menjadi tunanganku itu pun jatuh cinta dengan orang lain. Ia dan orang tuanya meminta pertunangan kami diputuskan. Aku bersedia”
“…”
“Aku mencarimu Ren setelah itu tapi tak ada kabar. Aku loss contact dengan teman-teman semasa kuliah. Otomatis jembatan menemukanmu juga terputus. Tapi tidak tahu mengapa, selama ini aku yakin aku akan menemukanmu kembali”
“Kamu tahu aku juga mencintaimu?”, Rena yang baru pulih dari shocknya baru bisa bicara
“Rena, aku tahu kamu. Aku kenal kamu dengan baik. Aku bisa membacamu. Aku tahu kamu mencintaiku dulu, dan sepertinya sekarang pun masih”, tembak Rey
Rena tersenyum dan ini membuat merah pipinya.
Eitts, tapi tunggu dulu aku sudah punya calon suami”, kata Rena mengejutkan
Wajah Rey langsung berubah 180 derajat, ia pun memperbaiki posisi duduknya.
“Benar Ren?”
“Iya”, jawab Rena santai, “Sekarang aku akan mengenalkannya dengan mamaku”, ia menarik tangan Rey.

Rey lega, ia menurut diajak Rena masuk. Akhirnya, aku menemukanmu kembali Ren.

Saturday, September 7, 2013

Musyawarah Nasional Forum Lingkar Pena III

Tulisan ini merupakan sedikit oleh-oleh bagi teman-teman FLP Banjarbaru yang tidak berkesempatan hadir langsung dalam rangkaian acara MUNAS 3 FLP di Bali, 29 Agustus – 1 September 2013. Anggap saja kalian sedang membaca laporan sebuah acara ^^

Sebelumnya, bagi yang belum tahu FLP itu apa akan saya jelaskan sedikit. Forum Lingkar Pena (FLP) adalah organisasi kepenulisan di Indonesia yang mempunyai 3 pilar utama yakni organisasi, dakwah serta menulis itu sendiri. Motto FLP adalah Berbakti, Berkarya, Berarti. Keren kan? Nah, musyawarah nasional (MUNAS) adalah salah satu agenda 4 tahunan FLP dimana dalam acara tersebut terjadi pergantian dewan penasihat, ketua umum, dan badan pengurus pusat (BPP) FLP. Setelah munas tahun 2009 lalu, kali ini munas FLP dilaksanakan di Pulau Bali dengan tema “Quo Vadis Penulis di Era Digital”.

Kalimantan Selatan mengirimkan enam orang delegasinya, yaitu Bapak Khairani mewakili FLP wilayah Kalimantan Selatan sekaligus jaringan wilayah Kalimantan, Kak Saprudi juga mewakili FLP wilayah Kalimantan Selatan (beliau sendiri adalah ketuanya), Kak Ervina Rahiem mewakili FLP cabang Banjarmasin, saya sendiri mewakili FLP cabang Banjarbaru dan dua akhwat lainnya mewakili FLP cabang Barabai yaitu Kak Satiah dan Norliani.

Kamis, 29 Agustus 2013
Jam sudah menunjukkan kurang lebih pukul 22.00 WITA, delegasi wilayah Kalimantan Selatan (selain Pak Khairani dan Kak Saprudi) baru saja tiba di ruang meeting Hotel Grand Villas dimana diadakan acara Sarasehan antar Delegasi. Sedangkan acara tersebut dimulai sejak jam 8 malam. Alhasil, baru sebentar duduk. Acara sudah ditutup. Hikz. Keterlambatan kita disebabkan karena kelamaan transit  di Bandara Juanda Surabaya. Lima jam! Jangan tanya, ngapain aja kami selama itu. Mati bosan, lumayan.

Perut kami masih lapar. Sedangkan konsumsi yang disediakan oleh panitia sudah habis. Sedihnya. Beruntung, kakak-kakak panitia paham sekali. Berempat, kami diajak ke warung yang agak jauh dari hotel nyari makan. Alhamdulillah, dapat warungnya.

Selesai makan. Balik ke kamar. Go to bed, time for sleep.

Jum’at, 30 Agustus 2013
Pagi-pagi, kita sudah harus kumpul di ruang makan untuk breakfast. Wah senangnya bisa duduk satu meja dengan mbak Sinta Yudisia, sosok penulis yang selama ini saya kenal hanya lewat novelnya. Ternyata beliau ramah sekali.

Sarapan bersama Mbak Sinta Yudisia

Selesai makan kita langsung ke lobi sembari nunggu bus. Kita akan ke hotel Grand Shanti, tempat acara pembukaan dilaksanakan. Sampai di hotel tersebut, kita langsung masuk. Delegasi kalsel langsung masuk ruangan, duduk di barisan depan.



Acara pembukaan dimulai dengan tarian khas bali, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu disambung dengan sambutan dari ketua umum FLP mbak Setiawati Intan Savitri (a.k.a Izzatul Jannah). Sambutan kemudian berturut-turut disampaikan oleh Staf Ahli Kemenkoinfo, Bapak A. Mabruri dan Staf Ahli Pemerintah Bali, Bapak Ida Bagus Gumara. Pak Ida Bagus yang mewakili Pemerintah Daerah Bali ini secara resmi membuka acara MUNAS 3 FLP dengan pemukulan gong sebanyak 3 kali.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional bertema “Quo Vadis Penulis Era Digital”. Secara umum seminar ini membicarakan era teknologi yang kian maju sekarang ini dan bagaimana  para penulis menyikapinya dengan mengikuti arus teknologi media tetapi tetap produktif berkarya. Seminar ini dipandu oleh moderator M. Irfan Hidayatullah, atau biasa yang dipanggil Kang Irfan. Beliau adalah Ketua Umum FLP periode 2005-2009 dan merupakan salah satu Dewan Pertimbangan FLP periode 2009-2013. Ada empat orang pembicara dalam seminar ini. Yang pertama adalah Bapak Hari, perwakilan dari Direktur Telkom Indonesia. PT. Telkom Indonesia saat ini menawarkan aplikasi Q-Baca (www.qbaca.com) untuk para penulis FLP. Dimana dengan menggunakan aplikasi tersebut, penulis bisa mengupload tulisannya dengan mencantumkan harga jual atau bisa juga gratis.


Pembicara yang kedua adalah ibu Oka Rusmini. Beliau adalah salah seorang sastrawati bali yang buku-bukunya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ciri khas novel beliau adalah sarat unsur budayanya, sehingga menarik pembaca dari seluruh dunia. Beliau memberikan pesan kepada seluruh penulis FLP, jangan pedulikan hirarki. Teruslah menulis, jika tulisan kita dibaca dan bagus, maka dunia yang akan mencari kita. Pembicara yang ketiga adalah Habiburrahman El-Shirazy (a.k.a Kang Abik), penampilan penulis yang juga ustadz ini sudah ditunggu-tunggu peserta sejak awal seminar. Satu poin penting yang beliau tekankan adalah bahwa penulis FLP jangan terpancing dengan ketidakindahan suasana yang sekarang melanda Indonesa, tetaplah menulis yang indah, yang mencerahkan.

Pembicara yang terakhir ada Pak A. Mabruri perwakilan Kemeninfo. Bagi yang belum kenal dengan beliau, beliau adalah pemimpin redaksi majalah Annida yang pertama. Jadi beliau juga mempunyai basic literasi. Tapi beliau mengaku tidak bisa menulis. Hihi. Dalam paparannya beliau mengatakan bahwa saat ini Kemenkominfo sedang mengembangkan teknologi TV Digital untuk menggantikan TV Analog yang kita pakai sekarang. Dimana dalam TV digital ini ada banyak sekali stasiun televisi yang bermunculan. Peluang yang sangat besar bagi para penulis untuk ikut nimbrung dalam dunia pertelevisian. Merasa dong sekarang gimana bikin gerahnya sinetron-sinetron Indonesia. Salah satu yang menyebabkannya adalah naskah skenario mereka yang memang tidak berkualitas. Dengan backing para penulis FLP yang ideologis, insyaallah tayangan-tayangan TV Indonesia ke depannya akan menjadi lebih berkualitas. Aamiin. Bahkan, beliau menawarkan kalau memungkinkan mengapa FLP tidak membuka stasiun televisi sendiri saja? Wuihh, tawaran yang menggiurkan. Bisa dicoba ^^. Ketika acara selesai, mulai deh aksi norak peserta layaknya ketemu artis. Minta foto bareng dengan para penulis-penulis tingkat nasional =D.

Bersama Bunda Helvy Tiana Rossa

Agenda selanjutnya dipindahkan ke Hotel Grand Villas lagi. Selesai ishoma, acara dilanjutkan dengan agenda pembahasan tata tertib sidang. Delegasi Kalsel boleh berbangga karena salah satu delegasi Kalsel, yaitu Pak Khairani terpilih menjadi Pimpinan Sidang I. Sedangkan Pimpinan Sidang II adalah pak Aliman dari wilayah NTB dan Pimpinan Sidang III adalah Ibu Umi Kulsum dari wilayah Jawa Timur. Setelah pembahasan tata tertib sidang selesai, langsung dilanjutkan dengan Sidang Pleno I yaitu Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum 2009-2013. Sebelumnya mbak Intan juga memperkenalkan anggota Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP periode 2009-2013. Ada banyak sekali pertanyaan dari peserta sidang dan ini memakan waktu hingga agenda selanjutnya. Bahkan laporan pertanggungjawaban belum bisa diputuskan diterima atau tidak sehingga dipending dulu. Acara kemudian dilanjutkan dengan Sidang Pleno II yaitu Laporan Kerja dari Dewan Pertimbangan. Dewan pertimbangan yang terdiri dari mbak Maimoon Herawati (a.k.a Muthmainnah), kang Irfan, kang Abik, dan mas Gola Gong ini menjelaskan apa saja yang mereka kerjakan selama 4 tahun jabatan mereka. Ketika azan maghrib tiba, ishoma dulu.

Setelah ishoma sidang Pleno I yang belum selesai dilanjutkan. Alhamdulillah, LPJ diterima namun dengan beberapa syarat perbaikan. Akhirnya, mbak Intan bisa bernafas lega. Sidang kemudian dilanjutkan dengan sidang komisi. Ada tiga komisi, yaitu komisi A yang membahas AD/ART, komisi B membahas Kaderisasi dan komisi C yang membahas Dana Usaha. Saya dan kak Satiah masuk dalam komisi C. Ternyata komisi ini paling cepat selesainya, jam 11 malam aku sudah bisa tidur. Yeaay. Besoknya saya baru tahu, kalau kak Ervina yang ikut komisi A baru jam 2 dinihari masuk ke kamar. Ckck.



Sabtu, 31 Agustus 2013
Pagi datang, mata para peserta Munas masih banyak yang merah, ngantuk. Apalagi komisi A =D. Setelah sarapan pagi, acara kemudian dilanjutkan dengan Sidang Pleno III, yaitu pembahasan sidang komisi A. Panjaaaaaaaaaaang sekali pembahasannya. Teman-teman yang tidak ikut Munas beruntung bisa langsung “menikmati” AD/ART secara utuh. Tidak banyak perubahan sebenarnya, tapi namanya berdiskusi tentu memakan waktu. Jadwal udah mulai molor dari jadwal semula. Sidang pleno komisi A memakan waktu hingga azan maghrib. Selanjutnya Sidang Pleno IV dan V dilakukan setelah makan malam. Komisi B dipimpin oleh Mbak Sinta Yudisia dan Komisi C dipimpin Mbak Afifah Afra dan Mas Adam Muhammad/Luthfi Hakim (itu lho, operator FLP Bisa!). Sidang pleno kali ini membahas tentang Kaderisasi dan Dana Usaha, dua divisi yang wajib ada di FLP tiap wilayah/cabang.

Karena saya masuk di komisi Dana Usaha, jadi disini akan sedikit saya ceritakan kesimpulan dari sidang komisi Divisi Dana Usaha. Jadi setelah munas ini dan terbentuknya kepengurusan BPP yang baru. FLP akan mendirikan PT dan koperasi, dananya didapat dari seluruh anggota FLP di Indonesia. Caranya dengan me”nol”kan seluruh anggota dan mengadakan  registrasi ulang tanpa kecuali. Registrasinya melewati web pusat FLP, dengan biaya 100.000 per anggota pertahun. Setengah dari uang tersebut, yakni 50.000 akan dimasukkan ke koperasi, 10.000 untuk pusat, 10.000 untuk wilayah dan 30.000 untuk cabang. Jadi setiap ada Munas atau acara apa pun, harapannya kita tidak lagi membayar untuk penyelenggaraannya namun bahkan dapat dividen (bagian) dari keuntungan PT atau koperasi yang dikelola FLP. Ketua umum yang baru terpilih otomatis akan menjadi Komisaris Utama. Wuihh. Selain itu, poin penting dari hasil sidang komisi C adalah penyakralan logo FLP. Jadi logo FLP tidak boleh diutak-atik (diubah-ubah bentuk atau ditambah dengan tulisan cabang/wilayah), karena logo ini akan segera dipatenkan dengan hak cipta FLP. Juga ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pihak yang akan mencantumkan logo ini dalam sampul buku, merchandise, dll.

Acara selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu-tunggu, yakni pemilihan Dewan Pertimbangan dan Ketua Umum periode 2013-2017. Dari hasil musyawarah dan voting didapatkan nama-nama Dewan Pertimbangan, yaitu Gola Gong dan Habiburrahman El-Shirazy. Selain itu Dewan Pertimbangan juga terdiri atas pendiri FLP, yakni Mbak Helvy Tiana Rossa, Mbak Asma Nadia dan Mbak Maimoon Herawati. Mantan ketua umum juga otomatis menjadi anggota Dewan Pertimbangan, sehingga ada tambahan 2 orang lagi yakni Kang Irfan dan Mbak Intan.

Calon-calon Ketua Umum
Sedangkan calon-calon ketua umum adalah Kang Abik, Mas Yanuardi Syukur, Mbak Intan dan Mbak Sinta. Subhanallah, ketika voting dilaksanakan perolehan nilai Mbak Sinta dan Kang Abik hanya selisih 3 poin. Namun karena diantara keduanya tidak ada yang lebih dari  50% dari total suara maka sesuai AD/ART harus voting dilakukan putaran kedua. Tapi setelah musyawarah yang alot, maka diputuskan cara lobi antar kedua calon sajalah yang memutuskan yang mana diantara mereka yang berhak dan merasa mampu untuk memegang FLP 4 tahun ke depan. Akhirnya, Mbak Sinta didaulat untuk menjadi ketua umum. Sedangkan Kang Abik, beliau tetap menjadi bagian dari FLP karena merupakan salah satu dari Dewan Pertimbangan. Setelah itu dilakukan sambutan perdana dari ketua umum yang baru. Mbak sinta berpesan mari kita saling mendo’akan semoga beban yang sedang diamanahkan kepadanya menjadi terasa ringan karena do’a-do’a seluruh anggota FLP. Aamiin.

Penyerahan jabatan secara simbolis ke Mbak Sinta Yudisia
sebagai Ketua Umum FLP 
Acara terakhir malam itu adalah pembacaan rekomendasi dan ringkasan hasil Munas. Pada pembacaan tentang divisi kaderisasi ada kejadian yang cukup mengejutkan lho. Pak Alimin, Presidium Sidang II, jatuh tertelungkup di depan. Saking lelahnya beliau, masya allah. Acara kemudian dilanjutkan, setelah Pak Alimin dibawa ke kamar beliau. Oya, setelah itu ada musyawarah sebentar mengenai tempat munas 4 tahun berikutnya. Ada 10 tempat yang ditunjuk sebagai calon tuan rumah munas tahun 2017, antara lain yaitu Bandung, Bontang, Pontianak dan Palembang.

Minggu, 1 September 2013
Subuh-subuh kita sudah keluar kamar. Ngumpul di lobi dan jalan kaki ke Pantai Jerman, Kuta Bali. Subhanallah, sejuk sekali menikmati pagi di Pulau Dewata dengan berjalan kaki. Apalagi setelah sampai di tempat tujuan, kita disambut oleh deburan ombak dan hamparan pasir pantai yang luas. Sesi narsis dulu, pemotretan =D.

Delegasi FLP Kalimantan Selatan
Acara kemudian dilanjutkan. Ada beberapa games dari panitia. Sebelumnya kita disuruh berdiri melingkar. Games yang paling seru itu adalah Games Jurmal (jujur itu mahal). Jadi setiap peserta disuruh suit dengan peserta lain, siapa pun yang menang boleh suit lagi dengan peserta lain yang juga menang. Ada banyak sekali yang menang sampai akhir. Tetapi ternyata, yang mendapatkan doorprize adalah yang jujur mengaku kalah =D. Selain itu, ada semacam salam kode dari panitia ke peserta. “Are you ready?”, peserta harus jawab “Ready”. Nah, readynya ini yang dimedok-medokin jadi logat jawa sehingga yang terdengar adalah reddi’ :D.

Acara utama kita di pantai ini adalah menulis serempak, dengan menggunakan gadget apapun lewat akun twitter. Setiap penulis harus menyuarakan Suara Penulis Indonesia (SPI) di akunnya masing-masing dengan memention pak Presiden @SBYudhoyono tagar #SPIMUNAS3FLP. Tiga topik tulisan yang bisa ditulis adalah advokasi penulis Indonesia, apresiasi penulis dari pemerintah dan simpati untuk Mesir. Keren deh!


Pulang dari pantai, setelah membersihkan diri dan sarapan, acara dilanjutkan lagi. Kali ini acaranya adalah Seminar Internal yang dipandu oleh Bang Yons Achmad. Pembicaranya kali ini adalah Kang Irfan, Mas Gola Gong, Mbak Intan, Mbak Helvy, dan Mbak Sinta. Mas Gola Gong menyemangati para peserta untuk selalu berkarya dengan gayanya yang gokil. Kang Irfan keren, beliau tidak berbicara tapi menyanyi dengan lagu ciptaan sendiri. Dibantu seorang peserta yang jago big box, beliau menghidupkan suasana di lobi Hotel Grand Villas. Isi lagunya juga menyemangati para anggota FLP untuk terus berkarya. Setelah itu berturut-turut mbak Intan, mbak Helvy dan mbak Sinta berbicara tentang harapan untuk FLP ke depannya.

Setelah itu ada sambutan dari Kholidi Assadil Alam yang juga hadir saat itu. Kakak yang akrab dipanggil Odi ini didaulat Mbak Helvy untuk menjadi ikon FLP. Wah, saya senang sekali katanya meski tanpa fee. Gurunya Odi, kang Abik juga memberikan sambutan. Semoga FLP membawa berkah kata beliau. Aamiin. Oya, ada sesi hiburan juga dari Benny Arnas, penulis dari Lubuk Linggau Sumatera Selatan ini membawakan puisinya tentang rindu. Keren.

Acara terakhir adalah pemberian Anugerah Pena, award high class di kalangan penulis FLP. Berikut hasil pengumuman Anugerah Pena:
1. Penulis Terpuji: Afifah Afra Amatullah
2. Kumpulan Cerpen Terpuji: Bulan Celurit Api (oleh Benny Arnas)
3. Buku Non-Fiksi Terpuji: Terapi Kejujuran (oleh Yanuardi Syukur)
4. Novel Terpuji: Takhta Awan (oleh Sinta Yudisia)
5. Penulis Pendatang Baru Terpuji: Mashdar Zainal (dari FLP Cabang Malang)
6. Kumpulan Puisi Terpuji: Rembulan pun Melapuk di Reranting Perak (oleh Syukur A. Mihran)
7. Wilayah Terpuji: FLP Wilayah Jambi
8. Cabang Terpuji: FLP Cabang Depok

Mas Benny Arnas menerima Award dalam kategori Kumpulan Cerpen Terpuji

Juri Anugerah Pena adalah dari Dewan Pertimbangan dan seorang mbak-mbak Indonesia yang udah Doktor di Jerman, mbak Eva N. Nisa. Oya, sebelumnya sudah diumumkan anggota BPP yang baru. Ayo, kita ucapkan selamat sekali lagi kepada Pak Khairani. Kali ini beliau “diangkat” menjadi Ketua Harian II BPP yang mengurusi masalah kaderisasi. Wilayah Kalsel dimajuin FLPnya ya pak, hehe.

Bersama Teh Imun
Acara selesai. Sembari nunggu-nunggu banyak sekali teman-teman yang antri foto dengan Odi. Mas yang berperan sebagai Azzam di film Ketika Cinta Bertasbihnya Kang Abik ini memang ramah sekali. Tapi aku tidak ikut-ikut berebut saat itu, karena selain sudah waktu di belakang sebelum acara (itu pun secara tidak sengaja dan rame-rame), aku tak punya interest terhadap foto dengan orang terkenal. Paling ngebet waktu munas itu aku pengen foto bareng dengan mbak Maimoon (Muthmainnah), karena waktu remaja (sekarang masih kok =D) aku terinspirasi dengan serial Pingkan yang nongol di majalah Annida. Alhamdulillah kemaren sempat foto dengan beliau dan bukunya yang juga ditandatangi beliau.

Waktunya terbang. Kita ke bandara Ngurah Rai yang gedung baru. Panas banget sumpah. Gejala panas dalam pula, dibawa tidur sambil menghabiskan waktu delay rasanya percuma saja. Gak enak. Di Juanda juga gitu. Lagi-lagi delay. But, finally welcome to Banjarmasin J.




Wednesday, July 31, 2013

Jawaban

Akhirnya aku tahu mengapa aku tak menyukai sesuatu. Karena itu tak menantang. Sedang aku menyukai tantangan, kesulitan untuk dibereskan. Yah, seperti teka-teki yang terlalu mudah jawabannya atau rubik yang sudah tersusun rapi warnanya. Itu tak akan menarik hatiku

http://www.redeemthecommute.com/

Monday, July 22, 2013

Logika Memberi dan Meminta

Andai kamu adalah orang tua yang memiliki anak. Jika anakmu penurut, tak perlu ia meminta pun tentu akan kau beri keinginannya. Sebaliknya jika anakmu pembangkang, ketika ia meminta sesuatu dengan menangis darah pun kau mungkin masih enggan memberikan apa yang diinginkannya.

Mungkin itulah sedikit gambaran mengenai hubungan kita dengan Allah. Percayalah, hanya dengan memberi kita dapat meminta (baca: menerima). Coba pikir sejenak, bukankah sebenarnya kita ini adalah orang yang tak tahu diri jika kita meminta dengan orang yang tak kita patuhi perintahnya? Bagaimana perasaan orang tersebut? Tentu akan sangat jengkel bukan.

qoutescover.com

Satu analogi lagi. Seandainya kita adalah seorang bos dalam suatu perusahaan. Seorang pegawai kita memohon minta dinaikkan gaji dan ia akan berjanji bekerja lebih giat setelahnya. Apakah kita mengabulkan permintaannya? Belum tentu. Tapi bayangkan jika ada seorang pegawai yang semakin rajin setiap hari dalam bekerja, tak ia minta pun kita pasti akan memberikannya bonus tambahan. Logikanya, memberi dulu baru menerima. Memantaskan diri dulu baru meminta. Inilah yang terjadi ketika kita bernazar. "Allah, jika kau berikan aku kekayaan aku akan bersedekah", atau "Allah, jika kau beri aku istri yang sholehah maka aku akan lebih rajin beribadah". Pertanyaannya, kita pantas tidak menerima permintaan kita tersebut? Coba kita ubah, "maka" di depan "jika" di belakang.

Jangan banyak mencari alasan untuk menghindari ibadah kepada Allah, jika kau tidak ingin Allah juga memiliki banyak alasan untuk menghindari terkabulnya do'a-do'amu pada-Nya.

Sudah disebutkan dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Quranul Kariim bahwa kita -manusia dan bangsa jin diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Bayangkan jika suatu hari nanti, kita bisa menciptakan sebuah robot dengan tujuan agar si robot tersebut membantu pekerjaan rumah kita. Tapi ternyata, si robot tersebut menjadi pengacau dan malah merusak pekerjaan kita. Bukankah kita marah karenanya? Karena robot yang kita ciptakan tidak berbuat sesuai tujuan penciptaannya. Nah, begitu juga dengan kita, manusia.

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Allah sama sekali tak membutuhkan ibadah kita. Tanpa kita beribadah kepadanya pun, Ia sudah kuat, sudah maha segalanya. Ibadah itu untuk kita, akan dikembalikan Allah ke kita dalam bentuk yang berbeda. Subhanallah.

Mari menjadi pribadi yang tahu diri, ketika kita meminta pada-Nya ingatlah apakah kita sudah memberi rasa syukur kita pada-Nya dengan melaksanakan kewajiban dan kebajikan yang Ia sukai. Karena sesungguhnya, kita hanya patut menerima setelah kita memberi.

Sunday, July 21, 2013

Mahameru

Baru saja selesai menonton film 5 CM. Filmnya lumayan keren. Menambahkan sesuatu dalam daftar mimpiku; menaklukkan Mahameru. Aamiin.

Merasa Bersalah

Hari ini aku merasa bersalah, pada seseorang serta pada beberapa orang lainnya. Rasa bersalahku itu muncul sebenarnya bukan karena itu sepenuhnya salahku, tapi kompilasi dari beberapa kejadian yang menyebabkan aku berada di posisi seperti tadi siang. 

free.clipart.com

Seperti biasa dalam hidup, ada banyak hal yang berbarengan minta diperhatikan dalam satu waktu. Harus memilih salah satu yang terpenting, kuharap aku sudah melakukannya. Allah, jika boleh aku meminta, jangan terlalu sering kau beri aku dilema seperti ini. Aku ingin berguna bagi orang-orang di sekitarku, jadi biarkanlah mereka membutuhkanku dalam waktu yang berlainan hingga aku dapat memenuhi pinta mereka.

Sunday, June 23, 2013

Nisfu Syaban

Tepat ketika kumenulis catatan ini
Azan maghrib berkumandang
Menandakan bergantinya hari tepat pertengahan (nisfu) bulan sya'ban
Tahun-tahun yang lalu, ketika nisfu sya'ban
Aku berlari-lari kecil sebelum azan maghrib menuju langgar yang agak jauh dari rumahku
Entah bersama teman, mama atau nenekku (yang waktu itu masih sehat)
Untuk menunaikan ibadah shalat maghrib dan dilanjutkan setelahnya shalat sunah tasbih dan pembacaan surat yaasin hingga waktu shalat isya
Ba'da isya, orang-orang di kampungku berkumpul di langgar (bahkan yang tidak ikut shalat sekalipun)
Untuk berkumpul mendengarkan sedikit ceramah dan do'a dalam menghidupkam malam nisfu sya'ban

konsultasisyariah.com

Setelah itu nasi bungkus yang dibawa dari masing-masing rumah dengan jumlah berlebih dibagi-bagikan
Kalau stok nasi bungkusnya masih ada boleh dibawa pulang
Untuk dimakan ketika waktu sahur untuk puasa sunat besok harinya
Ahhh,, indahnya...
Begitulah bertahun-tahun aku menapaki nisfu sya'ban laksana membuka pintu bagi bulan termulia, Ramadhan
Sekarang, pertama kalinya aku di rantau ketika nisfu sya'ban tiba
Kebetulan pula aku berhalangan
Tak dapat ikut menghidupkan malam nisfu sya'ban dengan shalat sunnah
Tak apa, kata seorang teman
Yang jelas hati mengingat-Nya

Allah, pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan dan meningkatkan ibadah di dalamnya lebih dari tahun-tahun yang telah lalu
Serta tutuplah buku catatan amal kami tahun ini dan yang telah berlalu dengan jumlah kebaikan yang lebih banyak daripada keburukan
Aamiin

Thursday, May 2, 2013

Antara Kita dan 2 Mei

Ada apa antara kita dan 2 Mei?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya kita perlu bertanya dulu ada apa dengan tanggal 2 Mei? Hari Pendidikan Nasional, ya sebagian besar dari kita mengetahui hal tersebut. Tapi kalau kita ditanya apa esensi dari Hari Pendidikan Nasional itu sendiri dan bagaimana hubungannya dengan realitas pendidikan di Indonesia sekarang ini. Beragam jawaban akan terluncur dari mulut kita. Melihat realitas pendidikan di Indonesia, bukan tidak mungkin jawaban yang dominan bermakna negatif. Misalnya, “Pendidikan di Indonesia semakin semrawut”; “Pendidikan di Indonesia tidak mendidik”; “Pendidikan di Indonesia tidak merata”dan lain-lain.

Apakah hanya komentar saja yang bisa kita berikan untuk memaknai tanggal 2 Mei? Mungkin saja tidak. Beberapa instansi pendidikan dan organisasi kemahasiswaan biasanya mengadakan berbagai acara untuk menyambut tanggal 2 Mei -yang sebenarnya merupakan tanggal lahir Ki Hajar Dewantara ini. Biasanya acara berupa berbagai perlombaan yang bisa diikuti oleh anak-anak usia sekolah. Esensi dari Hari Pendidikan Nasional juga tidak bisa diambil dari acara-acara tersebut. Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan?

Sekarang, lihatlah diri kita. Apakah kita merupakan seorang yang berpendidikan? Berpendidikan dalam arti luas, tidak sesempit lingkungan pendidikan formal. Pendidikan erat kaitannya dengan proses belajar. Apakah kita sudah belajar banyak tentang segala sesuatu untuk membangun bangsa ini? Jika kita merupakan seseorang yang malas belajar. Manalah bisa kita ikut berkomentar bahwa sistem pendidikan di Indonesia itu buruk. Jangan dulu salahkan negara, jangan salahkan presiden, jangan salahkan menteri pendidikan atas kekacauan sistem pendidikan yang sedang berjalan. Tapi mari kita coba lihat dan perbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Karena semua hal di dunia ini terjadi tidak terlepas dari peran individu.

Mari kita ubah kebiasaan jelek kita tidak mau belajar atau tidak mau berbagi ilmu, menjadi seseorang yang lebih berguna bagi bangsa dan negara. Mari kita ajak juga orang lain untuk menjadi lebih baik, untuk lebih banyak belajar tentang dunia dan kemudian membagikannya kepada orang-orang lainnya. Dengan begitu, komunitas terdidik akan muncul. Jika ini sudah menjadi suatu kebiasaan, maka diharapkan bangsa kita juga akan terbentuk menjadi bangsa yang terdidik.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Ada apa antara kita dan tanggal 2 Mei? Ada hubungan yang erat, tentu saja. Jika kita ingin mengubah sesuatu yang besar tentu kita harus memulainya dari yang kecil, khususnya diri kita. Esensi 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional akan selalu begitu-begitu saja ketika kita juga tidak melakukan perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik (dan lebih terdidik). Tanggal 2 Mei tidak lebih dari sekedar gaung semangat sekejap yang kemudian hilang hingga tahun berikutnya. Jadi, marilah kita bercermin terlebih dahulu tentang diri kita bagaimana selama ini menyikapi pendidikan. Jangan hanya kritik yang kita beri tapi negara juga perlu solusi. Terutama dari kita kaum muda (yang ngakunya) terdidik. Mari kita lakukan sesuatu untuk membangun negara menjadi lebih baik dimulai dari diri kita sendiri.

Wednesday, March 6, 2013

The Day which I Born

21 years ago. Hehe, kaya nama sebuah cinema yak. Btw tentang cinema, aku sedang lagi nyari info nih apa film terbaru yang lagi tayang sekarang. Karena ada seseorang yang ngajak nonton sebagai kado ulang tahun. Whehe, lumayan ;)

http://colmanandcompany.com/

Hari ini, (lebih tepatnya 2 jam lg) aku pas berumur 21 tahun. Suerr, sejak tahun lalu aku berfikir keras. Udah kepala dua, kok aku masih ngerasa gini2 aja ya? Yah, maksudnya ya flat aja gitu nggak ada sesuatu yg meningkat drastis sejak aku merayakan sweetseventeen dulu. Terkadang, aku membandingkan diriku dengan beberapa teman seumuran. Apa yang kulakukan dan apa yang mereka kerjakan di umur yang sama. Beberapa temanku sudah ada yang menikah dan punya baby, yang lain sudah kerja atau nggak ya sedang mulai merancang usaha untuk masa depan. Lha aku? Klo dibandingkan dengan teman-teman tersebut, aku mati gaya. Punya skill dikit, ilmu juga masih seiprit. Masih proses, untuk menuju hal-hal yang bernama pencapaian. Setidaknya di perayaan ultahku tahun depan aku sudah harus melakukan "sesuatu" yang bisa kubanggakan pada diri sendiri dan orang lain. Paling nggak, bisa masak n renang. Upss! Yup, keduanya ada di my-list-what-to-do-next-year =D

Hari ini, tak ada perayaan apa-apa untuk selebrasi ultahku. Hanya saja, seperti biasa setiap tanggal 6 Maret selalu lebih cerah, ceria dan keren ;). Meskipun hari ini kuliahku seabrek2, 8 sks bo. Ditambah lagi tadi ada olimpiade di kampus yg aje gile susah soalnya. But, it's nothing dibandingkn betapa istimewanya hari ini. Bahkan ibu catering hari ini masak lebih enak dari biasanya, seakan tahu hari ini my special day. Yuhuu...

Yang pertama kali ngucapin selamat, tentu my special someone meski hanya lewat telpon singkat tengah malam. Yang pertama ngucapin langsung, ya siapa lagi klo bukan si @yung_iyung_simamora. Dia datang ke kos pagi-pagi (yah meski tujuan utamanya bukan ngucapin selamat, haha). Trus mengalirlah ucapan selamat ulang tahun via sms, fb, telpon. Yang paling mngesankan adalah ucapan selamat yg dikirim melalui MMS oleh sahabat SMPku. Isinya ada anak kucing yang menyanyikan lagu happy birthday. Hihi, lucu. Yang keren, ada yang ngucapin selamat ultah pake bahasa jerman. Dg kemampuan seadanya kujawab "danke", haha kayaknya bener karena stelah itu dijawabnya lagi yang mungkin artinya adalah 'welcome'. Yang paling membuatku terharu adalah ucapan selamat ultah dari my dad n seseorang yg jg kuanggap ayah, Pak B. Dia seorang teman dan ayah yang mengesankan bagiku n temenku waktu magang sebulan yang lalu. Hikz, jadi kangen beliau.

At least, semoga proposal hidupku setahun ke depan dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.

Thursday, February 14, 2013

Aneh

Hari ini leader bersikap aneh. Lima detik sebelum upacara berakhir, dia telah bubar duluan dari barisan. Apapun tentangmu, itu memang aneh Mr. R. 14213

Friday, February 1, 2013

First

Perkenalkan, namanya Leader. Tubuhnya tinggi menjulang, mempunyai mata elang yang aneh. Rambutnya agak ikal. Cuek. Langkahnya panjang-panjang. Tersenyum setiap kali berpapasan dengan orang, kecuali aku. Kita tidak saling mengenal.

Saturday, January 12, 2013

Selarik Sajak untuk Bunda

                   Meski kau masih mengeja kata
Walau kau tak fasih bicara
Meski kau belum paham eksakta
Kau berhasil tuntun aku ke dunia fana

Meski jelas kau tak paham sin cos tan
Pula pasti tak tahu apa itu genetika
Namun aku tak mampu menghitung tepat
Selain dirimu, sudut tempat kembali
Asal-usulku

Walau angka 2 menghiasi depan umurku
Aku tetap bayimu
Menangis, tak kau beri susu
Merangkak, menuju pangkuanmu

Orang bilang aku jenius
Aku luar biasa
Hanya saja, aku bukan apa-apa
Tanpamu

Suksesku hanya nol besar
Jika tak kuniatkan untukmu
Bagaimana bisa aku durhaka padamu
Sedang di bawah kakimu tersimpan surgaku?

Friday, January 4, 2013

Nasihat Papa

Ketika mata sudah ngantuk, sebaiknya tidur.
Ketika badan sudah lelah, sebaiknya istirahat.
Ketika perut sudah lapar, sebaiknya makan.

annholm.net

Tubuh kita mempunyai caranya sendiri untuk memperingatkan kita agar berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Seperti muadzin yang mengumandangkan azan agar kita bersegera menghadap-Nya di sela kehidupan fana ini.
 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates