Tuesday, August 16, 2011

Rollercoaster Dufan



Bayangkan jika kau mengalami saat2 ini. Saat kau salah dan disalahkan. Susah memang, kalau kita terbiasa benar dan jarang disalahkan. Itu bisa jadi masalah tersendiri. Salah sedikit saja, alamat reputasi baikmu selama ini akan cacat. Padahal kalau dibandingkan dengan yang lain, kamu bahkan mungkin memiliki kesalahan 10% dari 100% kesempurnaan. Bayangkan pula jika kau mempunyai hati yang super sensitif dan jarang pernah mendapati celaan orang terhadapmu. Tambahan lagi bayangkan saat itu kau dalam bad-tempered yang sangat, yah kau tahulah siklus bulanan wanita, memberi kesempatan bagi para cewek untuk bisa meluapkan emosinya dengan lebih transparan :D. Bayangkan pula kawan, kau mempunyai ibu cerewet yang tak bisa melihat kesalahan dirimu secuil pun, kalau khilaf sedikit saja maka itu akan selalu disebutnya.

Semua yang kau bayangkan itulah yang terjadi padaku beberapa puluh menit yang lalu. Aku diam saja saat mama menyebut-nyebut kealpaanku. Tentu saja aku tak akan membuka mulut, karena aku tahu aku akan menyesal jika melakukan itu. Lagipula mama memang benar, aku lalai. Hanya saja aku tak terbiasa tak terima diomeli dengan topik itu-itu saja. Bapakku –yang hampir seluruh gen (dan warisan sifat fenotif)nya menurun di tubuhku- tentu saja mahfum dengan apa yang kufikirkan saat itu, dia berusaha mengajakku berbicara sewajarnya, tak menghakimi. Lagipula, dia kan memang seperti itu, kalau bapakku sampai menghakimi sesuatu atasku berarti keadaan sudah sangat gawat [tak ada unsur-unsur lebai lho dalam kata-kata ini]. Aku pernah mengalami saat-saat sangat SOS tersebut dan tak ingin mengalaminya lagi. Tapi aku masih melancarkan mogok bicara sampai saat ini. Untung gak mogok makan –meski kuakui makan sahurku jadi tak semenyenangkan biasanya gara-gara insiden ini.

Semoga saja aku dapat mengambil pelajaran dari kejadian ini. Aku tahu, nanti setelah luapan emosiku agak terkendali. Aku mungkin akan senyum-senyum baca tulisan iini. Tapi saat ini tidak, ini memang benar-benar dari hati. Bah, terlalu melankoliskah aku? Kurasa tidak, inilah catatanhatiku saat emosiku seperti rollercoaster di Dufan

0 comments:

 

Rindang Yuliani Published @ 2014 by Ipietoon

Blogger Templates